Then, prove it!
“Di, where r u? I mis u..”(Im here.)
“Di, ni …masih inget kan? Maaf lahir batin ya” (yoa, sama2!)
“Ya Allah, sampaikan salam rindu padanya..”
“Di, beneran kangen lho ..”(siapa jg y6 bilang bo’ongan??)
“Di, its me, u remember me?”
…
Ah, dirimu bolak—balik bilang gitu. Lewat sms, telpon, facebook (Eh, yang ini nggak deeng..!), bahkan email (ini juga nggak), tapi mana buktinya? Buktiin dong, kalau kamu bener - bener kangen padaku!
Jujur, dulu aku sayang banget padamu. Whatever I di, I do for you. Whatever I think, I think about you, whatever I have, I just want give it for You…
Setiap kali aku kecewa padamu, aku berusaha mencari 1001 alasan agar aku tetap positive thinking padamu sehingga kau mau memaafkanmu.
Ø Setiap kali marahku akan meledak, akulah yang melarikan diri darimu, agar engkau tak terkena imbas marahku. Jika kau yang marah—marah padaku, aku berusaha menghadapimu dengan senyuman (Iya po Di?? Bukane ikut marah—marah?).
Ø Setiap saat ketika kita janjian, dan aku harus menunggumu yang datang terlambat, aku pun berusaha sabar, padahal, aku sama sekali bukan orang penyabar. Akhirnya, untuk menumpahkan ketidaksabaranku, aku selalu membawa gunting, pensil, dan kertas. Kertas tersebut, kalau tidak kugunting sampai hancur lebur, pasti sudah kucoret—coret sampai sampai kalau dilihat, menyakitkan matakau sendiri.
Ø Dan setiap kali aku meminta bantuanmu, lalu kau mengatakan “maaf. Aku sedang ngerjain ini, maaf aku sedang sibuk ini, maaf…” aku pun berusaha memaklumimu.
Ø Pun setiap kali orang tua kita menanyakan dan menuntut “kenapa hubungan kalian seperti ini? Seperti itu? Seharusnya kalian seperti ini, seperti itu..”, aku berusaha tegar, dengan cara memasukan segala usul, saran, dan tuntutan tersebut lewat telinga kanan dan mengeluarkannya lagi lewat telinga kiri. (Pantes, g pernah berubah, nasehatnya g pernah didengerin soalnnya, ckckck.)
Sekarang, aku berpisah denganmu. Awalnya, begitu aku menjauh darimu aku ngerasain tenang..banget! Lama—kelamaan, aku berharap, aku akan merindukanmu. Merindukan jaring—jaring cinta karena-Nya, yang dulu kita susun bersama. Merindukan saat kita ngobrol bareng. Merindukan saat kita rapat bareng, jadi kepanitiaan bareng, bahkan saat kita ngerjain orang lain bareng. Tapi kenyataannya, semakin lama aku berpisah denganmu, bukannya semakin kangen seperti yang kuharapkan, aku malah semakin senang. Dan setiap kali aku mengingat saat—saat bersamamu, aku jadi benci. Benciii…banget! Hingga ingin rasanya aku menghapus namamu dari memoriku. (edeeh..! sadis bener di.)
Kadang aku berpikir, mungkin semua ini salahku? Mungkinkah selama ini aku yang lebay dalam mencintaimu? Mungkinkah selama ini, cinta yang kuberikan kepadamu bukan cinta murni dan tulus suci karena –Nya? Mungkinkah senyum yang kuberikan kepadamu adalah senyum palsu, tapi senyum bajakan? Dan mungkinkah, kebersamaan kita selama ini, hanya sebatas formalitas? (Itu, emang loe banget di. Parah banget sih, baru nyadar!)
Ah, nggak mungkin.. Aku tulus mencintaimu. Aku tulus banget, terutama kalau aku sakit, kau datang ke kostku sambil membawakan buah tangan untukku. Aku tulus banget mencintaimu, terutama saat kau mentraktirku di warung tenda depan kampus sambil ngobrol. Aku tulus banget mencintaimu terutama saat kau menurut ketika ku perintah. Aku tulus banget mencintaimu, terutama saat kita jalan – jalan bareng, out bond bareng, makan bareng, dll. Dan aku tulus banget mencintaimu terutama saat kau mau kompak denganku, terutama saat kita ngerjain orang lain. (Nah lo.. Dari awal cintamu emang pindah haluan kok di..kamu cuma cinta dia, kalau dia nguntungin kamu..)
Dan seperti penggalan—penggalan sms - mu di atas, kau mengatakan bahwa sekarang engkau rindu padaku. Then, prove it!. Buktikan kalau kau benar—benar merindukanku.
1. Dengan memberiku kado sebuah peta yogya misalnya (Coz, aku sering lupa atau tersesat di jalan, jangankan nyepeda, jalan kaki aja kadang kesasar).
2. Atau dengan memberiku kado sebuah obat yang dapat meningkatkan daya ingatku misalnya.
3. Atau dengan membelikanku setumpuk kertas buram misalnya, jadi aku bisa mencorat—coret kertas tersebut sepuas hatiku atau menggunting—guntingnya sampai hancur saat aku marah padamu.
4. Atau dengan memberikanku sebuah topeng yang sedang tersenyum misalanya, agar saat aku marah dengamu, aku bisa mengekspresikan amarah tersebut, tapi kau tetap melihatku sedang tersenyum.
5. Atau dengan memberiku sebuah sebuah patung tiruanmu misalnya, jadi saat aku kita janjian, kau bisa datang tepat waktu. Meskipun, yang hadir tepat waktu itu adalah patung tiruanmu.
6. Atau, kau juga bisa menghadiahkanku sebuah patung tiruanku, agar kalau ada orang yang menuntutku atau memberiku surat teguran agar kita begini atau begitu, orang tersebut menuntut pada patung tiruanku, bukan padaku.
7. Bahkan, kau pun bisa membuktikannya dengan mentraktirku makan di angkringan, mengerjakan laporanku, membayarkan spp dan sks—ku, dsb (Yee.. ini mah, enak di elo g’ enak di gue di..).
Ah sudahlah,
Banyak menuntut banyak kecewa.
Sedikit menuntut, sedikit kecewa,.
Kalau aku tidak menuntut, aku pun nggak bakalan kecewa. Betul nggak? Betul, betul , betul, betul…!
Makanya itu, biar aku nggak menuntut, lebih baik, sementara ini, aku ngejomblo dulu. Menyendiri sambil cari wangsit. Coz, saat ini, aku bener—bener ngerasa menemukan kembali diriku yang hilang (Cie…cie..). Aku bisa nulis cerpen, nulis novel. Ikut lomba ini, ikut lomba itu. Bercanda sama—orang yang gokil, ancur, and selalu bikin tawaku terasa crispy and lepas, enak gitu deh. Melakukan aktivitas yang ancur (ngebaca buku di toko buku yang segelnya udah dibuka misalnya). Terus..pokoknya masih buanyak lagi deh!
Meskipun demikain, dont worry be happy. Coz, InsyAllah, wherever I life, im stil same with you..Aku masih tetap menjadi PKS’s freak, masih tetep pake bahasa anti dan antum, masih suka ngunjungin pengajian untuk ngedapetin snack gratis (Lho??), masih suka mrofokasi orang lain agar ikut dugem..pokoknya, yang gitu—gitu, masih deh!
Taqoballahu minna wa minkum
Minal aidzin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan batin
-Diana, PN ‘06-